Desa Randuboto Sukses Kelola Sampah dengan Rapi dan Inovatif


Tribunpendowonews.my.id || Gresik,

Masalah sampah sudah menjadi masalah klasik yang sulit ditangani dengan tuntas, namun itu tidak menyurutkan Pemdes Randuboto, Kecamatan Sidayu untuk mengelola sampah  dengan manajemen yang rapi dan Inovatif.  Sehingga tidak menimbulkan masalah penumpukan sampah maupun bau sampah yang menyengat seperti yang dialami mayoritas masyarakat perkampungan.


Ketika wartawan ini mencoba memasuki wilayah Desa Randuboto sudah tidak pernah dijumpai warga desa membakar sampah di halaman depan rumah secara sembarangan. 


Ya sejak 2024 manajemen pengelolaan sampah di desa tersebut sudah rapi dan Inovatif, berkat inovasi  biopori organik,pengelolaan dan pemilahan sampah yang baik melalui Tempat Pengolahan Sampah (TPS) Reduce,Reuse, Recycle yang bersih dan tidak menimbulkan bau


Menurut Kepala Desa Randuboto Andy Sulandra saat ditemui di lokasi TPS 3R ,Sabtu sore(16/05/2026) mengatakan, bahwa Pemdes Randuboto berkomitmen  bersama untuk mengatasi persoalan sampah dan menjaga kelestarian lingkungan di wilayahnya. Dan ia sendiri yang memulai untuk

membuat lubang biopori organik dari timba bekas untuk membuang sisa sisa makanan yang terbuang, yang menurutnya sumber bau sampah berasal dari sampah sisa sisa makanan yang dibuang. Ada dua biopori, yakni biopori organik untuk sampah organik dan biopori untuk resapan air  


Sehingga akhirnya tercetus dalam benaknya agar inovasi pembuatan biopori organik ini bisa diterapkan ke seluruh warganya. Agar persoalan sampah bisa ada solusi. Dengan adanya biopori organik di setiap rumah,lanjutnya, tidak semua sampah rumah tangga selalu masuk ke tong sampah yang kemudian dibuang ke TPS yang akhirnya menumpuk tidak terkendali.


Utamanya sampah organik( buah ,sayur,sisa makanan) bisa dimanfaatkan, sehingga sampah yang telah dipilah bisa mempermudah pemanfaatannya dan mengurangi volume sampah di TPA 


Lubang resapan yang diisi dengan sampah organik bisa mempercepat proses percepatan air ke dalam tanah sekaligus menghasilkan kompos alami. Sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang akan terurai oleh mikroorganisme tanah dan berdampak terhadap kesuburan tanah. Sampah organik nantinya bisa diolah menjadi kompos ,pupuk  sedangkan sampah anorganik bisa dimanfaatkan nilai ekonominya. 



Saat ini pihaknya sudah membuat peraturan desa ( perdes) agar semua warga taat membuat biopori organik di halaman rumahnya masing-masing.

Perdes tersebut berisi kewajiban agar setiap warga yang mau mengurus berkas/ surat mereka harus membuat biopori yang mendapat surat atau bukti keterangan dari RT RW setempat.


Dari 2024 total sudah ada ribuan biopori organik yang tersebar di  4 Dusun Desa Randuboto, yaitu Dusun Randuboto,Dusun Tanjung Sari,Dusun Ujung Sari,Dusun Ujung Timur


Menurutnya, penanganan sampah organik yang dimulai sejak dari rumah ,maka persoalan bau di TPS 3R pun bisa diatasi dengan baik , seperti sekarang ini


Pada Mei 2025 kemarin TPS 3R Desa Randuboto pernah mendapat kunjungan dari beberapa pemdes asal Pulau Bawean,mereka datang untuk belajar mengolah sampah TPS 3R supaya bersih dan tidak bau .

Saat ini di TPS 3R Desa Randuboto sudah memperkerjakan puluhan pekerja untuk bertugas memilah sampah 

" Juga ada  petugas sampah yang berkeliling ke rumah rumah warga untuk dibawa ke TPS 3R," tutup Andhy Sulandra 





Reporter budi


dibaca

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama